Berhenti Merokok

ALASAN ORANG TIDAK MAU BERHENTI MEROKOK

      Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan jumlah perokok terbanyak setelah China dan India. Berdasarkan data Riskesdas 2010 diketahui sekitar 34,7 persen penduduk Indonesia (± 82 juta) menjadi perokok aktif,  dengan jumlah paling tinggi terjadi pada kelompok usia 25-64 tahun.

Sebagian besar perokok Indonesia menurut Dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM*) kebanyakan adalah penduduk yang tinggal di pedesaan, tingkat pendidikan rendah, pekerja informal dan juga status ekonomi rendah. “Ini berarti perokok kebanyakan adalah penduduk dengan penghasilan terbatas dan pengetahuan tentang kesehatan yang rendah,” ujar Dr Ari dalam acara konferensi pers PAPDI mengenai rokok di Sekretariat PB PAPDI, Cikini, Jakarta, Jumat (4/2/2011).

Selain itu didapatkan data bahwa lebih dari 75 persen perokok di semua kelompok usia ternyata merokok di dalam rumah yang berarti berada di dalam ruang tertutup, dengan begitu orang yang tidak merokok bisa mendapatkan dampak langsungnya, padahal risiko perokok pasif tidak jauh beda dengan perokok aktif.

Dari data Pemeriksaan Kesehatan Tahunan di sebuah rumah sakit diketahui bahwa lebih dari 45% karyawan adalah perokok. Namun kita yakin mereka sangat berpendidikan dan sebagian besar tentunya tahu bahwa merokok bisa membahayakan kesehatan dirinya sendiri dan juga orang lain. tapi kenapa tetap membandel.

Dari obrolan santai terungkap beberapa alasan kerap dilontarkan oleh para perokok agar tetap bisa melakukan aktivitas tersebut. Alasan yang diungkapkan oleh para perokok biasanya:

  1. Ia menganggap dirinya sehat-sehat saja.
  2. Tidak terkena serangan atau penyakit jantung meskipun ia aktif merokok.
  3. Merokok atau pun tidak merokok ia tetap akan meninggal juga.

Rokok dapat membunuh tetapi juga membawa membawa banyak kegembiraan pada jutaan perokok. Perokok sangat rentan terhadap penyakit mematikan seperti kanker dan penyakit jantung. Itulah sebabnya banyak kalangan medis yang sangat menganjurkan perokok untuk segera berhenti menghisap nikotin dalam rokok

Apa yang terjadi jika perokok berhenti merokok? Untuk jangka pendek, berhenti merokok dapat menyebabkan efek positif dan negatif. Tapi efek negatif hanya sementara dan menjanjikan efek positif yang jauh lebih besar untuk jangka menengah dan jangka panjang.     Untuk menghilangkan gejala ini, American Cancer Society dalam laporan Guide to Quitting Smoking menunjukkan mantan perokok untuk melakukan kegiatan yang dapat menggantikan rokok sebagai solusi untuk menghilangkan kelaparan dan stres, seperti mengunyah permen karet dan olahraga. Ketika Anda bisa mengatasi gejala withdrawal, maka tubuh akan dapat segera merasakan manfaat dari berhenti merokok. Manfaat itu akan semakin besar saat Anda tidak merokok dalam jangka panjang.     Karbon monoksida merusak sistem saraf, tetapi jumlah itu dalam darah kembali normal dalam waktu 12 jam setelah berhenti merokok. Manfaat lainnya yang segera bisa dirasakan adalah masalah pernapasan menjadi lebih sedikit, indra penciuman dan mengecap menjadi lebih baik, gigi lebih putih, serta napas, pakaian dan rambut menjadi tidak berbau.     Berhenti merokok juga mengurangi risiko kanker kandung kemih, leher rahim, kerongkongan, pankreas mulut dan kanker tenggorokan. Penurunan risiko tersebut membuat mantan perokok hidup lebih lama dibandingkan dengan perokok.*) Ketua bidang advokasi PB PAPDI (Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia).

Tidak merokok untuk dalam jangka waktu 1 tahun dapat memotong risiko penyakit jantung menjadi setengahnya. Dan dalam 10 tahun dapat mengurangi risiko kanker.

Berhenti merokok dapat mengurangi tekanan darah dan denyut jantung dalam waktu 20 menit. Ketika berhenti merokok, Anda juga tidak lagi menghirup beberapa bahan kimia berbahaya dan senyawa dalam asap tembakau.

Nikotin yang sangat adiktif dapat memicu gejala balikan (withdrawal) pada orang yang baru saja berhenti merokok, sehingga menyebabkan orang sering gagal dalam upaya berhenti merokok. Gejala withdrawal biasanya dimulai beberapa jam setelah berhenti merokok dan dapat berlangsung selama beberapa minggu, yaitu ditandai dengan perasaan mudah marah, kecemasan, depresi, pusing, kelelahan, sakit kepala, nafsu makan meningkat, kurang konsentrasi, gangguan tidur dan kenaikan berat badan.

Eka Sumarna, Ir., M.kes (K3), HIMa

Source: Riskesdas (Riset kesehatan dasar) 2010 di dalam Detik Health (www.detik.com)