Eka Sumarna, Ir. M.Kes

Profil

  • 20 tahun pengalaman kerja sebagai profesional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Pertambangan Mineral Emas di Papua; menapak karir mulai dari Junior Safety Engineer hingga OH&S Manager.
    • Industrial Hygienist untuk perusahaan.
    • Personil kunci untuk pengembangan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP).
    • Pengelola Administrasi Keselamatan Pertambangan, termasuk Legal dan Persyaratan lainnya, dan Komunikasi Safety.
    • Pengelola Pelatihan dan Pengembangan K3 Internal Perusahaan.
    • Mengelola Rencana Kerja Tahunan Teknik dan Lingkungan (RKTTL) dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk bidang Keselamatan Pertambangan perusahaan.
    • Anggota Penyusun Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) Mineral dan Batubara ESDM.
    • Anggota Pendiri Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI), Anggota no. 23
    • Anggota Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) No. 0501674.
    • Anggota American Society of Safety Engineer (ASSE), No. 010007346
    • Anggota Indonesian Industrial Hygiene Association (IIHA), No. 1602312000069
  • 5 tahun pengalaman sebagai konsultan AMDAL.
  • Industrial Hygienist (HIMa) sertifikat dari Majelis Higiene Industri Indonesia.
  • K3 Tambang NQF6 sertifikat dari BNSP
  • Instruktur Madya sertifikat dari BNSP
  • Ahli K3 Umum (AK3U) sertifikat dari Depnaker.

Pendidikan dan Sertifikat

S-1, Sosek Komunikasi Pembangunan, Institut Pertanian Bogor (IPB), 1984-1989

S2, Magister Promosi Kesehatan Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Universitas Diponegoro, 2000-2014.

Sertifikasi: POM, HIMa, OH&S Internal Auditor (NOSA, OHSAS 18001), Instruktur Madya, Ahli K3 Tambang NQF6, NOSA S&H Trainer, RPL (Recognized Prior Learning) Assessor.

Contact

E-mail: eka_sumarna@yahoo.com

 

Pelatihan K3

Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan elemen dasar di dalam program pengendalian bahaya di tempat kerja dan untuk meningkatkan kewaspadaan karyawan, pengetahuan tentang praktek kerja aman, dan tindakan lainnnya dalam rangka meningkatkan K3 di tempat kerja.

Sebagai sasaran pelatihan, pengenalan bahaya, belajar praktek-praktek kerja aman dan cara-cara preventif lainnya diharapkan dapat berkontribusi terhadap tujuan mengurangi resiko cedera dan sakit akibat kerja.

Bagi mereka yang terlibat di bidang K3 sebagai praktisi K3 atau mereka yang baru saja menerima penugasan sebagai praktisi K3, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anda adalah sangat dibutuhkan. Untuk membantu anda dalam hal ini, kami menyediakan pelatihan dan konsultasi, mulai dari pelatihan K3 dasar, modul spesifik sampai konsultasi mengembangkan sistem manejemn K3 yang khas (tailor-made) untuk perusahaan anda.

Terima kasih.
Eka Sumarna at Eka_Sumarna@yahoo.com

Pelatihan

  • Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja
  • Basic Industrial Hygiene
  • Industrial Hygiene Samplingdan Monitoring
  • Confined Space
  • Pendeteksian gas menggunakan portable gas detector.
  • Pengelolaan Lingkungan Kerja Pertambangan.
  • Hazard Communication (HazCom)
  • Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Minerba, Strategi implementasi

Konsultasi

  • Gap Analysis Sistem Manajemen K3
  • Pengembangan Program Industrial Hygiene
  • Sosialisasi, fasilitasi implementasi SMKP

Komunikasi Safety yang Efektif

KOMUNIKASI K3 YANG EFEKTIF

Komunikasi menjadikan orang, tugas, proses dan sistem saling berinteraksi bersama-sama untuk mencapai sasaran K3 yang ditetapkan. Cara kita mengkomunikasikan K3 akan mempengaruhi apakah orang akan memahami dan dan terlibat dalam proses K3 atau tidak, dan bahasa yang kita gunakan seringkali menentukan apakah proses tersebut diterima atau ditolak. Sekedar memberi pelatihan kepada karyawan untuk bekerja selamat mungkin belum cukup. Perlu motivasi dan bentuk bentuk publikasi untuk mendorong mereka untuk mengambil tanggung jawab bagi keselamatan dan kesehatan dirinya sendiri. Metode yang digunakan adalah menciptakan suasana yang mempromosikan perilaku selamat, dan mengingatkan serta menekankan pentingnya hal tersebut bagi karyawan dan perusahaan.

Proses komunikasi adalah seperti berlalu lintas di jalan raya. Anda perlu merencanakan mau kemana, memperhatikan rambu-rambu, dan mengambil jalan lain apabila diperlukan, berperilaku sesuai kondisi dan memperlambat jalannya jika diperlukan. Pengertian komunikasi tidak sekedar menurut apa yang dipikirkan si pengirim pesan – tergantung pula dari respon si penerima. Perlu waktu dan usaha memang untuk memiliki teknik yang sempurna dalam menyampaikan pesan K3 secara efektif.

Bahasa dan kata-kata

Pemilihan bahasa dan kata-kata amat sangat berpengaruh terhadap hasil komunikasi K3. Pemilihan kata-kata ‘positif’ dapat memberikan tanggapan yang berbeda, contohnya:

Ungkapan Negatif Ungkapan Positif
Masalahnya apa?

Anda seharusnya ….

Anda tidak paham

Saya sudah bilang sebelumnya untuk tidak …

Ini berbiaya mahal

Bagaimana saya dapat menolong anda?

Mulai sekarang … atau lain kali

Mari saya coba sekali lagi

Bagaimana kalau mencoba dengan cara ini

Ini adalah investasi untuk kesehatan

Umpan balik dapat positif atau negatif, dan dapat mempengaruhi kualitas dan frekuensi perilaku. Umpan balik yang efektif adalah alat berharga untuk mempengaruhi perilaku selamat di tempat kerja. Bahasa yang mempunyai arti mendua atau subyektif dapat menjadi kontra-produktif. Contohnya, pernyataan ”tampaknya ada tidak menyadari, ceroboh atau sembrono” hanya menambah kebencian atau dendam dan mengurangi penerimaan dari pesan perilaku yang disampaikan. Mengatakan bahwa insiden atau cedera adalah ”kesialan” menunjukkan bahwa insiden tidak dapat dicegah. Hal ini bertolak belakang dengan filosofi bahwa insiden dapat dicegah.

Komplain dan kritik

Kita mungkin dihadapkan pada resistensi perubahan dalam hal praktek pekerjaan atau mengadopsi prosedur baru. Ungkapan-ungkapan di bawah ini mengindikasikan hak tersebut:

Saya sudah melakukan ini sejak tahun kuda dan semuanya baik-baik saja

Tidak akan menimpa saya

Kami telah melakukan sebelumnya

Kecelakaan memang harus terjadi

Tidak akan berhasil

Ada yang lebih penting untuk dilakukan

Mereka tidak mengijinkan

Saya terlalu sibuk untuk melakukan itu

Kamu tidak faham

Di luar bujet saya

Safety hanya iseng saja

Tidak ada seorangpun senang akan kritik negatif dan beberapa orang lebih sensitif dibandingkan yang lainnya. Sewaktu membicarakan kesalahan atau praktek kerja yang tidak selamat, orang akan dengan gampang membuat alasan, untuk itu komunikasikanlah topik dengan menunjukkan kesalahan dan menyarankan cara-cara untuk mencegah kesalahan serupa di masa datang.

Tips dasar komunikasi

  • Fikir sebelum bicara. Katakan apa yang anda maksud dan artikan dengan baik apa yang anda katakan.
  • Gunakan bahasa tubuh. Bahasa tubuh, intonasi suara dapat berpengaruh pada efektifitas komunikasi.
  • Bicara langsung dibandingkan menggunakan e-mail, terutama untuk hal-hal sensitif atau konflik personal.
  • Buat ringkas. Gunakan bahasa yang difahami dan sopan.
  • Beri dukungan. Perilaku beresiko (seperti salah angkat) seharusnya diikuti tindakan korektif segera untuk menghentikan dan mencegah kejadian berulang.
  • Tekankan kembali pesan. Ingatkan karyawan agar berlaku selamat di kemudian hari.
  • Beri apresiasi, dukungan dan selamat.
  • Beri contoh. Perilaku buruk akan ditiru, dianggap hal yang dilakukan tersebutlah yang benar.

Sumber: Health Safety Executive

Bahaya Kesehatan Bahan Kimia

Paparan berlebih terhadap bahan kimia tertentu dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Waktu adalah hal penting dalam masalah ini: berapa lama efek akan muncul dan kapan ia berakhir.

Efek Akut biasanya terjadi segera setelah terpapar. Efek tersebut biasanya tidak berlangsung lama, dan mungkin menghilang sewaktu tidak ada paparan lagi. Beberapa efek akut, seperti sakit kepala atau memar pada kulit, cenderung tidak memiliki dampak besar, tetapi untuk suatu bahan kimia yang memiliki dosis lethal, efeknya dapat mematikan seketika.

Efek Kronis biasanya dihasilkan dari paparan dalam waktu lama. Perlu waktu lama, kadang bahkan tahunan, pengaruh paparan baru muncul. Namun, jika masalahnya telah muncul, maka dapat berlangsung lama. Efek kronis umumnya bersifat serius. Kanker dan masalah reproduksi adalah contoh efek kronis. Gangguan kesehatan lainnya yang termasuk kategori ini adalah anemia, bronkitis kronis, dan kerusakan pada hati.

Bahaya kesehatan kimia juga dibagi berdasarkan rute paparannya. Bahan kimia dapat masuk ke tubuh dan menyebakan masalah kesehatan melalui :
• Kontak dengan Kulit
• Kontak pada mata
• Terhirup
• Termakan

Beberapa bahan kimia memiliki efek berbahaya melalu rute paparan manapun. Yang lainnya, mungkin terbesar pengaruhnya melalui salah satu rute. Untuk itu sangat penting untuk mengetahui rute mana yang diperhatikan dan perlindungan terhadap paparan.
Waspada selalu terhadap bahaya kesehatan dan ambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghindarinya.

Di bawah ini panduan umum yang perlu diperhatikan

  • Ikuti petunjuk dari pabrik dan prosedur perusahaan mengenai bahan kimia dan peralatannya.
  • Jangan mengambil jalan pintas
  • Periksa wadah secara berkala dari kemungkinan bocor dan tutup jika tidak digunakan.
  • Lapokan segera jika ada tumpahan, bersihkan jika anda terlatih, memilki alat memadai, dan ditugaskan untuk pekerjaan tersebut.
  • Pastikan area berventilasi.
  • Gunakan pakaian pelindung yang direkomendasikan seperti tercantum di dalam MSDS dan disediakan oleh perusahaan.
  • Inspeksi semua APD sebelum digunakan.
  • Pindahkan dan buang pakaian yang terkontaminasi dengan benar, mengacu pada prosedur perusahaan.
  • Jangan membawa makanan, minuman, atau rokok ke area kerja.
  • Cucilah tangan dan badan dengan seksama sebelum makan, minum, atau merokok.
  • Bersihkan alat, peralatan, dan pakaian yang terpapar bahan kimia berbahaya sebelum digunakan kembali.
  • Buang semua material yang terkontaminasi dengan benar.

Hal penting pula untuk bertindak cepat dan tepat jika anda dan rekan kerja anda terpapar bahan kimia berbahaya. Setiap detik dapat menentukan.

Oleh karena anda tidak dapat memastikan bagaimana seriusnya paparan yang terjadi, maka mintalah pertolongan medis. Kemudian periksa MSDS untuk langkah P3K. Prosedur P3K tidak sama untuk setiap bahan, namun secara umum langkahnya adalah sebagai berikut:

  • Kontak dengan Kulit: Lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan cuci kulit dengan air selama sekurang kurangnya 15 menit.
  • Kontak pada mata: Bilas mata dan kelopak dengan air selama sekurang-kurangnya 15 menity.
  • Terhirup: Bawa korban ke area berudara segar segera. Korban mungkin memerlukan bantuan pernapasan.
  • Termakan: Dapatkan pertolongan medis segera. Ikuti petunjuk di dalam MSDS secara seksama. Beda bahan kimia memerlukan perlakukan yang berbeda pula

ELEMEN KUNCI PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

International Loss Control Institute (ILCI) telah mengidentifikasi 20 elemen program yang dipertimbangkan termasuk esensial untuk suksesnya upaya pengendalian kerugian (loss). Elemen program tersebut adalah:

  1. Kepimimpinan dan Administrasi
  2. Manajemen pelatihan
  3. Inspeksi yang terencana
  4. Analisis tugas dan prosedur
  5. Penyelidikan kecelakaan
  6. Observasi Pekerjaan
  7. Kesiapan keadaan darurat
  8. Aturan organisasi
  9. Analisis kecelakaan
  10. Pelatihan karyawan
  11. Alat Pelindung Diri
  12. Jasa dan kontrol kesehatan
  13. Sistem evaluasi program
  14. Kontrol enjinering/rekayasa
  15. Komunikasi personal
  16. Pertemuan kelompok
  17. Promosi umum
  18. Pekerja baru dan penempatan
  19. Kontrol pembelian
  20. K3 di luar kerja

       Ahli lain [1] meringkas menjadi 8 buah program, yaitu sebagai berikut:

Elemen Administratif (Administratif  Elements)

  1. Manual (prosedur dan acuan)
  2. Komite dan koordinator
  3. Pelatihan, minat, dan motivasi

      Elemen Aksi (Action Elements)

  1. Inspeksi
  2. Pengendalian Bahaya
  3. Analisis bahaya pekerjaan
  4. Pertemuan K3
  5. Penyelidikan kecelakaan.

      Kedelapan elemen tersebut akan diuraikan secara ringkas, sebagai berikut:

 II.1    Manual K3 (Prosedur dan Acuan)

         Sebuah manual K3 merupakan dasar dari efektifitas system manajemen K3. Tanpa prosedur dan acuan dasar, upaya pengendalian kerugian akan tidak terkoordinasi dan berjalan serampangan.  Segala masalah yang timbul akan ditangani bilamana muncul, daripada penanganan yang berorientasi secara sistematik.

         Terdapat banyak macam cara yang berbeda bagaimana menyusun sebuah manual, tergantung kebutuhan. Kriteria yang penting dari sebuah manual adalah:

  • Mudah digunakan (user friendly), yaitu terdapat tatanan isi yang logis untuk memudahkan pencarian prosedur.
  • Sistem indeks dan penomoran yang memudahkan proses pengisian arsip yang baru maupun yang direvisi.
  • Sistem indeks dan penomoran harus dapat diperluas mencakup sistem klasifikasi yang besar sehingga prosedur baru di kemudian hari dapat masuk dengan mudah ke dalam sistem.
  • Sistem indeks dan penomoran memiliki referensi arsip sehingga tambahan bahan dapat disimpan dan ditempatkan secara mudah.

II.2.   KOMITE DAN KOORDINATOR K3

         Komite K3

         Jumlah komite K3 tergantung dari organisasi dan manajemen strukturnya. “Top-Down” otokratis organisasi akan memiliki sedikit komite. Sedangkan  lainnya mungkin partisipatif dan konsensus dengan memiliki variasi tanggung jawab.

         Apa manfaat dari komite K3?  Tujuan umum dari program K3 yang sistematis adalah mencegah kecelakaan. Untuk mencapai tujuan ini, sistem harus terarah pada target mencari dan mengendalikan bahaya. Manfaat penting dari komite dalam menemukan dan mengendalikan bahaya adalah:

 Pengalaman dan keahlian dapat terpadu. Keterpaduan ini bersama-sama dalam suatu urun rembug masalah akan menghasilkan pengembangan yang inovatif dan pemecahan masalah yang praktis.

  1. Kesempatan bagi sejumlah orang untuk bekerja sama dalam suatu pertemuan dan menghasilkan komunikasi yang lebih baik.
  2. Rekomendasi dari komite, terutama masalah yang kontraversi, akan dapat diterima lebih positif oleh anggota lainnya di organisasi.

          Secara garis besar komite dikategorikan sebagai berikut:

  • Komite K3 eksekutif
  • Komite Program K3 – pelatihan, rekognisi, dan pengendalian bahaya.
  • Komite K3 Departemen
  • Komite K3 Teknis – seperti untuk urusan pelistrikan, APD, Alat angkat Crane dsb.

         Koordinator K3

         Program koordinator K3 didisain untuk menyediakan dukungan dan bantuan kepada manajemen departemen. Posisi ini biasanya tugas paruh-waktu. Tugas seorang koordinator K3 adalah membantu manajer departemen untuk urusan administratif  beberapa program, termasuk menentukan titik-titik lemah dari program dan membuat rekomendasi untuk penyempurnaannya.

         Petugas professional K3 harus bertemu secara rutin dengan semua koordinator untuk memberikan arahan dan pelatihan yang diperlukan. Koordinator K3 tidak mengambil alih fungsi pengawas lini depan dalam hal K3. Fungsi utama dari koordinator K3 ini adalah membantu manajer unit dalam hal administrasi program K3.

         Beberapa contoh tugas dan tanggung jawab koordinator K3:

  • Mengaudit manual K3 di bagiannya untuk memastikan manual tersebut selalu baru (up to date).
  • Memastikan  para pengawas melengkapi dokumentasi yang diperlukan untuk orientasi pegawai baru, komunikasi bahan berbahaya, dan pelatihan yang wajib diikuti pekerja.
  • Membantu penyelidikan kecelakaan serius.
  • Mengecek log pengendalian bahaya di unitnya.
  • Menelusuri tindakan pengendalian yang masih belum dikoreksi.
  • Membantu pengawas dalam hal administrasi program analisis bahaya pekerjaan.
  • Mengaudit ketaatan pekerja terhap prosedur K3.

II.3    Pelatihan K3

         Elemen pelatihan pada sistem ini biasanya diberikan oleh karyawan yang telah mendapatkan spesialis pelatihan sebagai instruktur.  Banyak pelatihan yang wajib diikuti oleh karyawan berdasarkan peraturan dan perundangan.  Berikut pelatihan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja:

  • Orientasi pegawai baru.
  • Pelatihan untuk pengawas.
  • Komunikasi bahan berbahaya.
  • Operator pengelolaan limbah berbahaya.
  • Perlindungan pendengaran.
  • Perlindungan pernapasan.
  • Confined space
  • Lockout/tagout (LOTO)
  • Emergency response
  • Crane operation
  • Scaffold erection and dismantling
  • Dsb

 Minat dan Motivasi

         Setelah pelatihan dilaksanakan, agar program pencegahan kerugian dapat sukses maka program harus memasukan program tambahan untuk meningkatkan minat dan motivasi dari pekerja, seperti misalnya:

  •  Papan buletin (Bulletin boards).
  •  Poster dan tanda-tanda peringatan.
  •  Distribusi majalah, buletin atau media cetak lainnya.
  •  Spesial tip.
  •  Penghargaan dan rekognisi pencapaian suatu prestasi K3.
  •  Program insentif
  •  Penghargaan hasil kerja yang luar biasa, dsb.

II.4    Inspeksi K3

         Inspeksi K3 dilaksanakan oleh karyawan yang memiliki pengalaman dan tingkat kompetensi yang cukup untuk mengenali bahaya di tempat kerja dan memberikan solusi yang cukup untuk tindakan perbaikan atau kontrol. Frekuensi dan ruang lingkup inspeksi tergantung dari jenis dan tingkat bahaya yang mungkin timbul dan kompleksitas dari operasi.

         Inspeksi yang efektif harus mencakup tiga elemen penting: penugasan tanggung jawab, inspeksi yang menekankan pada inspeksi masalah internal, dan tindak lanjut tindakan perbaikan.

II.5    Pengendalian Bahaya

         Bahaya potensial di tempat kerja harus dikenali dan dikendalikan dengan menetapkan prosedur dan menggunakan cara sebagai berikut:

  • Teknik enjinering jika memungkinkan dan mencukupi
  • Menetapkan prosedur bekerja secara aman untuk diikuti oleh semua pihak yang terkena, pelatihan, penegakan aturan, dan sistem  disiplin yang dikomunikasikan dengan baik.
  • Pengendalian administratif dengan cara mengurangi waktu pemajanan
  • Penggunaan Alat Pelindung Diri.

         Bahaya di tempat kerja yang teridentifikasi harus dievaluasi potensial efeknya untuk menentukan prioritas pengendaliannya. Dalam penentuan prioritas digunakan sistem rating dari resiko.

 II.6    Analisis Bahaya Pekerjaan

         Analisis bahaya pekerjaan sudah menjadi bagian dari program pencegahan kecelakaan. Analisis Bahaya Pekerjaan ini membantu pemahaman tentang bahaya yang mungkin ada di dalam suatu pekerjaan dan bagaimana mencegah agar tidak menyebabkan cedera dengan cara mengikuti langkah-langkah pencegahannya yang direkomendasikan.

         Analisis ini terdiri dari pengamatan langkah-langkah pekerjaan, apa bahayanya, dan bagaimana tindakan kontrolnya. Apa bahayanya menyangkut apa-apa saja tindakan yang mungkin dilakukan secara tidak benar oleh pekerja sehingga menyebabkan kecelakaan. Sedangkan bagaimana tindakan kontrolnya berkenaan dengan apa-apa saja yang harus dilakukan oleh pekerja tersebut untuk mengendalikan bahaya.

 II.7    Pertemuan K3

         Pertemuan K3 berfungsi untuk mendorong keterlibatan pekerja dalam penyusunan program dan penentuan kebijakan yang berpengaruh pada keselamatan dan kesehatan kerja mereka.  Pada pertemuan K3 kita  mendapatkan komitmen dari pekerja bagaimana mencapai tujuan program secara selamat.

         Pertemuan K3 akan efektif bilamana topik yang dibicarakan menekankan pada pengendalian/kontrol praktek-praktek tidak aman yang beresiko tinggi, yang menyebabkan terjadinya cedera serius maupun kerusakan harta benda yang besar.

II.8    Penyelidikan Kecelakaan

         Penyelidikan kecelakaan adalah proses penentuan oleh seorang atau lebih banyak orang yang memenuhi kualifikasi terhadap fakta dan latar belakang informasi yang siginifikan berkaitan terjadinya suatu kecelakaan, berdasarkan pernyataan yang diambil dari orang-orang yang terlibat, saksi-saki, pengamatan lapangan, pengamatan terhadap kendaraan dan permesinan atau peralatan.

         Program penyelidikan kecelakaan di dukung oleh prosedur tertulis mengenai Penyelidikan dan Pelaporan Kecelakaan.  Di dalam prosedur tersebut secara minimum mencakup elemen-elemen berikut:

Tujuan dan definisi

  • Semua kecelakaan atau insiden harus dilaporkan.
  • Jenis kecelakaan dan penyelidikannya.
  • Siapa yang harus diberitahu
  • Pelaporan kepada instansi pemerintah
  •  Prosedur dan Acuan
    • Prioritas setelah terjadi kecelakaan, tindakan apa saja yang harus diambil
    • Pengumpulan informasi
    • Analisa fakta
    • Menentukan kontrol agar kejadian serupa tidak terulang
    • Pelaporan dan distribusi laporan

[1] Richard W. Lack, P.E., CSP, CPP, CHCM dalam bukunya Essentials of Safety and Health Management. 1996.

KELELAHAN DAN KESELAMATAN

Kelelahan dapat menimbulkan bahaya yang serius. Beberapa kejadian yang disebabkan kelelahan diantaranya:

  • Operator tertidur saat mengendari Haul Truck;
  • Supir truk kehilangan kontrol;
  • Kinerja menurun sewaktu melakukan pekerjaan repetitif/berulang/membosankan;
  • Hilangnya konsentrasi dan banyak melakukan kesalahan.

Definisi “Kelelahan”

Tidak ada definisi operasional yang baku menggambarkan apa itu “kelelahan”, namun yang pasti kelelahan lebih dari sekedar mengantuk dan penyebabnya lebih dari sekedar lama kerja dan sifat fisik pekerjaan. Secara umum kelelahan dapat dipahami dengan membedakan sumbernya, dimensi-dimensinya, dan dampaknya terhadap kinerja. Untuk keperluan analisis, kelelahan dibedakan antara kelelahan akibart pekerjaan dan kelelahan bukan akibat pekerjaan, walaupun keduanya saling terkait.

Kelelahan bukan akibat pekerjaan, biasanya dialami mereka yang bekerja dengan sistem rotasi (shift), dapat diartikan sebagai kelelahan yang timbul karena situasi rumah dan keluarga, diluar kegiatan pekerjaan, merupakan pola hidup (termasuk penggunaan obat-obatan dan alkohol), pola dan masalah tidur seseorang, masalah keluarga, dan buruknya pengaturan kegiatan untuk menghadapi rotasi kerja.

Kelelahan akibat pekerjaan dapat dianggap sebagai produk dari organisasi pekerjaan dan faktor fisik seseorang, yaitu:

  • Lamanya waktu kerja dan pola istirahat, panjangnya waktu rotasi, urutan waktu rotasi, waktu off diantara waktu rotasi.
  • Waktu dimana saatnya kerja dan saat istirahat, dimana kondisi pagi, siang, sore, atau malam sangat bervariasi. •
  • Waktu awal rotasi.
  • Riwayat pekerjaan satu minggu sebelumnya, dimana ber-efek pada gangguan tidur.
  • Kemampuan biologis memulihkan diri dari kelelahan. Ada orang yang cukup segar walaupun hanya sebentar tidur. Tetapi mereka yang “tumor” – tukang molor, kalau belum 6 jam rasanya belum afdol.

Dampak kelelahan terhadap kinerja

Dampak kelelahan terhadap kinerja merupakan suatu hasil dari kombinasi antara pekerjaan, faktor non pekerjaan, rotasi kerja, sifat pekerjaan, lamanya pekerjaan, dan siklus rotasi. Secara umum, efek kelelahan dapat ditunjukkan seperti halnya efek karena pengaruh alcohol. Dampak tersebut seperti:

  • berkurangnya kewaspadaam/konsentrasi;
  • waktu merespon yang melambat;
  • gangguan koordinasi tangan-mata;
  • berkurangnya fungsi kognitif dan pengambilan keputusan kritis; 
  • hilangnya kewaspadaan situasional;
  • meningkatnya tingkat kesalahan;
  • kecendrungan mengganggu akurasi dan kecepatan kerja;
  • gagal mengenali masalah yang timbul;
  • meningkatnya stress, frustasi, kejengkelan;

Kombinasi satu atau lebih gejala-gejala di atas dapat menyebabkan meningkatnya insiden dan tingkat keparahan kecelakaan. Perlu lebih diwaspadai bagi mereka yang bekerja dengan sistem rotasi.

ASPEK KERJA ROTASI FAKTOR PENILAIAN
Sifat Pekerjaan Apakah pekerjaan sukar secara fisik?Apakah memerlukan mental pada derajat yang tinggi?Apakah pekerjaan monoton?

Apakah pekerjaan berulang?

Bagaimana sifat tugas yang harus dilakukan?

Bagaimana sistem kerja-istirahat yang diterapkan?

Waktu istirahat yang diberikan cukup memadai?

Apakah pekerja terpajan oleh panas, suara bising atau kontaminan udara?

Apakah manajemen sudah melakukan penilaian terhadap kesesuaian pekerjaan dan tugas-tugas kepada pekerja rotasi, apa saja pembatasan-pembatasan yang meungkin harus dilakukan?

 

Orang Berapa umur pekerja?Bagaimana status kesehatannya?Apakah pekerja mempunyai pengalaman dengan bekerja rotasi?

Bagaimana kemampuan adaptasi pekerja tersebut?

Apakah pekerje telah diberitahu mengenai bahaya bekerja pada sistem rotasi?

Apakah pekerja sudah terlatih bagaimana meminimalkan dampak bekerja rotasi?

Dapatkah pekerja tidur dengan baik selama hari istirahat-nya?

 

Sifat dan sistem kerja rotasi   Apakah rotasi kerja malam dapat dikurangi seminimum mungkin?Kapan awal kerja rotasi?Berapa lama periode kerja rotas?

Bagaimana pola rotasi dilakukan?

Seberapa sering pertukaran rotasi dilakukan (lamanya hari berurutan dalam satu rotasi)?

Berapa lama waktu istirahat diantara waktu rotasi?

Apakah waktu off sudah cukup?

Dapatkah “double shift” dihindari?

 

Lain-lain Asupan makanan pekerja rotasi?Aksesibilitas terhadap fasilitas di tempat kerja, seperti halnya pekerja “day-shift” (personil, first-aid, dll.)?Waktu istirahat yang cukup?

Pengawasan yang cukup?

Apakah kerja lembur dapat dihindari?

Sistem bonus untuk pekerja rotasi, dan bagaimana implementasinya?

 

Sumber: http://www.ilo.org/public/english/dialogue/sector/papers/austrmin/index.htm